Laut Kita Darurat Sampah

Laut Kita Darurat Sampah

Laut Kita Darurat Sampah, Sumber Gambar : Portal Hijau

Sampah merupakan masalah utama pada bumi kita, bisa dikatakan hampir seluruh permukaan bumi diselimuti oleh sampah entah itu di daratan ataupun di lautan. Volume sampah dunia saat ini mencapai 1,3 miliar ton per tahun.  Yang gencar menjadi sorotan saat ini ialah sampah di lautan. Mengapa, karena kita tahu sendiri jika 70% luasan bumi kita adalah lautan atau 2/3 luasnya dinbandingkan dengan daratan. Menurut laporan VOA Indonesia, setiap tahun sekitar 8,8 juta ton plastic berakhir di laut diseluruh dunia, seorang professor di university of Georgia Jenna Jambeck memperkirakan bahwa 2025 akumulasi sampah plastic di lautan mencapai sekitar 170 juta ton sampah plastic. Jumlah sampah tersebut akan terus bertambah seiring berjalannya waktu mengingat penduduk dunia saat ini mecapai 7 miliar jiwa. Semakin bertambahnya populasi manusia, semakin banyak pula sampah yang nantinya akan dihasilkan.

Dalam penelitian Jenna Jambeck yang dipublikasikan pada tahun 2015 juga menyebutkan bahwa Indonesia menjadi penyumbang terbesar kedua sampah plastic  di lautan, yaitu sebesar 187,2 juta ton dibawah Tiongkok dengan volume sampah plastic mencapai 262,9 juta ton. Filipina menempati posisi ketiga dengan jumlah sumbangan sampah plastic sebesar 83,4 juta ton, disusul Vietnam sebesar 55,9 juta ton dan Sri Langka sebesar 14,6 juta ton per tahunnya. Yang mengerikan sampah-sampah tersebut bukan hanya mengambang di lautan atau hanyut ke tepi pantai tetapi sampah plastic tersebut juga ditemukan pada palung terdalam lautan.

Laut Kita Darurat Sampah

Laut Kita Darurat Sampah Sumber Gambar : IDN times

Keberadaan sampah plastic di lautan yang semakin tidak terkendali sudah jelas sangat merugikan terhadap lingkungan dan ekosistem laut. Seperti yang diungkapkan oleh Dosen Universitas Hasanudin Makasar, Shinta Werorilangi kepada kantor berita Antara, “partikel plastic yang berukuran kecil berpotensi mencemari rantai makanan serta mengotaminasi biota perairan, karena mikroplastic dapat menyerap dan melepas bahan kimia yang beracun dan berbahaya.” Mikroplastik yang berukuan kecil tentu dapat dengan mudah terletan oleh biota laut yang mengakibatkan biota laut tercemar mikroplastik. Mikroplastik sendiri bersifat karsinogenik dan bernbentuk fragmen berbahaya yang dapat merusak sistem pencernaan biota laut. Hal tersebut juga dapat menimbulkan efek negatif pada manusia apabila biota laut tersebut dikonsumsi oleh manusia maka, secara tidak langsung tubuh manusia juga terkontaminasi oleh mikroplastic yang dapat mengaggu kesehatan pada manusia sendiri terutama masalah pencernaan ataupun alergi yang dapat ditimbulkan.

Selain itu, pencemaran ini juga berdampak terhadap perekonomian masyarakat, terutama masyarakat yang profesi sebagai nelayan. Jumlah ikan dilautan mengalami penurunan akibat cemaran plastic yang menggagu ekosistem biota laut. Berdasarkan wawancara yang dilakukan penulis secara langsung kepada beberapa nelayan di wilayah Banyuwangi, nelayan mengeluhkan saat ini lebih mudah menjaring sampah dari pada menjaring ikan. Jumlah penangkapan ikan yang dihasilkan saat ini sangat kotras bila dibandingkan 5-10 tahun yang lalu. Dahulu nelayan dapat dengan mudah menangkap 1 ton ikan perhari, tapi berbeda untuk saat ini, untuk menangkap 10kg ikan saja nelayan harus ekstra kerja keras. Belum lagi kerugian lainnya seperti jarring dan baling-baling yang rusak akibat terlilit oleh sampah plastic.

Upaya paling mudah yang dapat dilakukan untuk mengatasi permasalahan tersebut dapat berupa penanganan sampah yang berfokus pada daratan pemukiaman dan sungai, dibandingkan harus membersihkan lautan yang memiliki luasan lebih besar dari pada daratan. Mengurangi penggunaan plastic sekali pakai, miningkatkan praktik pengolaan sampah yang lebih baik seperti sistem 3R (Reuse, Reduce, dan Recycle) serta menghentikan kebiasaan membuang sampah di bibir pantai dengan cara memberikan TPS di daerah pesisir, merupakan salah satu upaya awal untuk menceggah bertambahnya volume sampah di lautan. Tanpa adanya kesadaran dan perubahan perilaku manusia, bukan suatu hal yang mustahil bila dimasa depan lautan akan menjadi tempat sampah raksasa. Stop buang sampah ke laut! mari wujudkan 2025 laut Indonesia bebas sampah.

Roci Lidiana

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »