Langkah Kecil Untuk Bumi Kita

Cuaca yang sering kali sulit di prediksi dan juga perubahan-nya yang mendadak menandakan bumi yang kita tempati ini mulai rusak dan sakit, dan sudah semestinya kita sebagai penduduk bumi memperbaiki atau setidaknya mengurangi kerusakan yang terjadi akibat aktifitas manusia sehari-hari. Sering kali orang-orang memahami menjaga bumi hanya dengan menanam pohon di tanah lapang, namun sebenarnya menjaga bumi tidak hanya melulu tentang penghijauan. Banyak hal yang bisa kita lakukan untuk menjaga bumi, dimulai dari hal-hal kecil yang paling sederhana.

Sangat banyak dan sangat mudah dilakukan seperti memastikan air pada kran yang telah di gunakan tidak ada yang menetes dan telah rapat tertutup, coba bayangkan berapa banyak tetesan air bersih yang terbuang selama kamu meninggalkan kran yang belum tertutup rapat sedangkan diluar sana masih banyak orang-orang yang membutuhkan air bersih entah karena sumber air disekitarnya tercemar ataupun memang karena kekeringan. Memastikan charge ataupun barang barang elektronik yang sudah tidak terpakai tercabut dari stop kontak, membawa tas belanja sendiri ataupun sekedar membawa plastik bekas untuk kembali berbelanja juga merupakan langkah sederhana dan sangat mudah dilakukan untuk menjaga bumi kita. Namun apakah cukup dengan itu saja? Tentu saja tidak, banyak kebiasaan kita yang perlu dirubah untuk menjaga bumi tetap dalam keadaan baik.

Hal yang sepele rasanya dibahas namun dampaknya sangat besar bagi kerusakan lingkungan yaitu kebiasaan menghabiskan makanan. Sampah makanan saat ini juga merupakan suatu masalah bagi bumi, Food Loss atau Food Waste sendiri adalah sampah yang dihasilkan dari makanan yang kita konsumsi baik yang hilang saat produksi, pengolahan, maupun sebagai sisa yang ada di piring makan setelah disajikan. Jadi, dengan membiasakan memesan atau mengambil makanan yang secukupnya merupakan suatu langkah mudah untuk turut menjaga bumi.
Langkah Kecil Untuk Bumi Kita
Food waste atau sisa makanan yang kita buang mengandung banyak konten organik karena berasal dari tumbuhan dan hewan untuk konsumsi juga memiliki kandungan air atau kelembaban yang tinggi sehingga sampah yang satu ini lebih cepat membusuk dibandingkan dengan sampah non-organik ataupun limbah plastik yang sulit terurai. Hal ini menimbulkan masalah di lingkungan dan sekitar tempat pembuangan sisa makanan seperti bau yang menyengat hasil dari pembusukan, mencemari udara menjadi tidak segar dan juga timbul penyakit dari banyaknya sampah yang menumpuk. Tak hanya itu, food waste menimbulkan gas metan pada tempat pembuangan sementara atau akhir. Gas metan yang dihasilkan tersebut ternyata 23 kali lebih mengakibatkan gas rumah kaca dibandingkan karbon dioksida yang dihasilkan oleh pembakaran yang dilakukan oleh manusia. Seperti yang kita tau, gas rumah kaca dapat merusak ozon, menimbulkan kenaikan suhu dan bahkan hingga merubah iklim dunia.

Saat ini kurang lebih 1/3 dari makanan yang diproduksi terbuang sia-sia dan menjadi food waste (United Nation Environmental Programme) dan juga 1,3 milliar ton pangan terbuang tiap tahunnya. Jumlah tersebut dapat menghidupi 870 juta orang yang masih kekurangan pangan di bagian bumi lainnya. Menurut Food and Agriculture Organization 60% food waste masih recyclable dan dapat di komposkan untuk kemudian dimanfaatkan menjadi pupuk. Namun 40% sisanya tetap menjadi tugas kita untuk kembali mengurangi food waste yang terjadi agar tidak semakin menjadi masalah yang besar di lingkungan kita. Mari wariskan bumi yang lestari dan sehat kepada anak dan cucu kita nantinya sebagai generasi penerus yang dapat bersahabat dengan alam dan lingkungannya.

 

Iftina Irbatul Ulayya

Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Translate »